Mengenal Piramida Keuangan, Elemen Penting untuk Atur Finansial

Bagi kebanyakan orang, gaji 12 bulan rasanya masih kurang untuk menabung beli rumah, dana pensiun, pendidikan anak, dll. Kamu juga merasakannya? Jika iya, mungkin kamu perlu evaluasi lagi skala prioritas kamu dalam mengelola keuangan. Gambarkan prioritas-prioritas itu ke dalam piramida keuangan keluarga.

Apa Itu Piramida Keuangan?

Piramida keuangan adalah suatu konsep yang digunakan dalam perencanaan finansial untuk menggambarkan hierarki atau struktur prioritas dalam mengelola keuangan. 

Konsep ini menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan dan membangun fondasi keuangan yang kuat, sebelum mengambil risiko atau melakukan investasi yang lebih tinggi. Konsep ini tidak hanya dapat membantu kamu memprioritaskan tujuan keuangan, tetapi juga memastikan kamu tidak terkena risiko yang tidak perlu.

Misalnya nih, jika kamu belum menyelesaikan prioritas keuangan di level pertama (seperti memiliki asuransi kesehatan), kamu tidak akan gegabah mengambil keputusan untuk membeli mobil (prioritasmu di level kedua). 

Level dalam Piramida Keuangan

Setidaknya, terdapat 3 level utama dalam piramida perencanaan keuangan yang perlu kamu ketahui, di antaranya:

1. Perlindungan Kekayaan (Keamanan)

Level dasar piramida ini adalah perlindungan kekayaan. Pada level ini, yang jadi fokus utama adalah melindungi aset dan kekayaan yang sudah ada dari risiko yang mungkin terjadi. Hal tersebut mencakup asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi properti, dan pembentukan dana darurat.

Tingkatan pertama ini juga bisa diartikan sebagai perencanaan keuangan yang paling mendasar, yakni memenuhi kebutuhan jangka pendek. Misalnya, menjaga agar arus kas tetap positif, mengurangi pinjaman, dan memiliki dana darurat. 

Pasalnya, tanpa adanya arus kas yang stabil, maka berpotensi ‘besar pasak daripada tiang’. Intinya, jika kebutuhan jangka pendek sulit terpenuhi, bagaimana kamu akan memenuhi kebutuhan jangka panjang nanti?

Di sisi lain, kamu juga akan membutuhkan asuransi untuk mengamankan kondisi finansial kamu dan membuat pondasi keuanganmu jadi lebih kuat. Asuransi bisa berbentuk asuransi jiwa, asuransi kesehatan, maupun asuransi aset. 

BACA JUGA :  Utang Produktif: Meraup Cuan dari Berhutang, Ini Caranya!

Milikilah salah satu dari proteksi ini untuk bisa naik ke level piramida perencanaan keuangan yang lebih tinggi.

2. Akumulasi Kekayaan 

Tingkatan selanjutnya dari piramida perencanaan keuangan adalah mengumpulkan kekayaan. Jadi, fokus keuangan yang tadinya memenuhi kebutuhan mendasar berpindah ke pertumbuhan aset. 

Level ini mencakup beberapa tujuan keuangan, seperti meningkatkan tabungan, diversifikasi investasi, menyusun biaya pendidikan anak, dll. Untuk bisa menyelesaikan tingkatan ini, kamu bisa coba berinvestasi pada logam mulia, saham, obligasi, maupun reksa dana untuk membangun kekayaan jangka menengah-panjang.

3. Distribusi Kekayaan

Ini adalah tingkatan terakhir dari piramida keuangan keluarga, di mana kekayaan kamu sudah terproteksi dan berkembang. Puncak piramida adalah kondisi dan tempat di mana kamu bisa bersantai menikmati kekayaan yang selama ini sudah kamu kembangkan.

Kamu bisa memenuhi daftar keinginan kamu, baik itu barang yang ingin dibeli saat dulu tidak punya uang atau mengganti waktu selama bertahun-tahun kamu bekerja dengan liburan dan healing

Jika sudah tercapai hal tersebut, maka langkah selanjutnya yang perlu kamu lakukan pada tahap ini adalah merencanakan pendistribusian kekayaan kamu setelah meninggal. 

Caranya adalah membagikan aset kamu kepada ahli waris atau menghibahkannya. Tahap ini sangat penting untuk kamu rencanakan, jika tak ingin timbul perselisihan di antara keluarga yang kamu tinggalkan. 

Tips Membangun Piramida Keuangan yang Kuat

Memiliki piramida keuangan keluarga yang kuat merupakan perjalanan yang panjang. Untuk memastikan perjalanan tersebut bisa sampai ke tujuan akhir finansial kamu, maka kamu perlu tahu apa saja tips-tips membangun piramida ini, seperti:

1. Pahami Tujuan Keuangan Kamu

Sebelum membangun piramida ini, tentukan dahulu tujuan keuangan jangka pendek, menengah, dan jangka panjang kamu. Misalnya, pembelian rumah, pendidikan anak, pensiun, atau liburan. Memiliki tujuan yang jelas akan membantu kamu mengarahkan upaya keuangan kamu dengan lebih baik.

BACA JUGA :  Financial Distress: Pengertian, Indikator, dan Cara Mencegahnya

2. Buat Anggaran dan Ikuti dengan Disiplin

Selanjutnya, buat anggaran yang realistis berdasarkan pendapatan dan pengeluaran harian atau bulanan kamu. Identifikasi pos-pos pengeluaran yang bisa kamu kurangi atau kamu hilangkan. 

Penting untuk mengikuti anggaran dengan disiplin untuk memastikan pengeluaran kamu sesuai dengan rencana. Jangan mudah tergoda dengan arus gaya hidup dan selalu ingat kembali tentang tujuan keuangan yang sudah kamu tetapkan sebelumnya.

3. Lindungi Diri dengan Asuransi

Sebagaimana kamu tahu bahwa perlindungan aset merupakan bagian penting dalam membangun piramida keuangan keluarga. Dan aset paling penting tentu saja ada pada diri kamu. 

Jadi, pastikan kamu memiliki perlindungan yang memadai melalui asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kendaraan, dan asuransi properti. Asuransi akan membantu melindungi kamu dari risiko keuangan yang tidak terduga.

Contohnya, katakanlah kamu adalah kepala keluarga berusia 45 tahun yang berpenghasilan Rp5.000.000,00 per bulan dan ingin memiliki asuransi jiwa. Maka, besaran asuransi ideal yang harusnya kamu miliki bisa dihitung dengan metode Human Life Value.

Metode ini menggunakan penghitungan berdasarkan penghasilan seseorang dikalikan dengan waktu yang diperlukan untuk menopang hidup keluarga dengan penghasilan tersebut. 

Jadi, begini contoh perhitungannya, Rp5.000.000,00 x 12 bulan x 10 (asumsi dana yang dibutuhkan untuk menopang keluarga 15 tahun lagi sesuai usia pensiun kamu). Maka, uang pertanggungan asuransi jiwa yang kamu butuhkan adalah sebesar Rp600.000.000,00.

4. Bangun Dana Darurat 

Sisihkan dana untuk dana darurat yang mencukupi. Idealnya, dana darurat harus mencakup 3 hingga 6 bulan pengeluaran hidup kamu. Dana darurat ini nantinya yang akan membantu kamu menghadapi situasi keuangan yang mendesak, tanpa harus memutar balikkan rencana keuangan kamu.

5. Kurangi dan Kelola Hutang

Usahakan untuk mengurangi hutang kamu dan mengelola hutang dengan bijaksana. Bayar tagihan tepat waktu dan hindari memperoleh hutang baru yang tidak perlu. 

BACA JUGA :  Apa Itu Amortisasi? Begini Contoh dan Cara Menghitungnya

Kebiasaan-kebiasaan buruk seperti terus menambah utang, hanya memikirkan keinginan jangka pendek, atau terlalu sering berbelanja barang konsumtif, harus segera ditekan. Untuk itulah, kamu perlu membuat piramida keuangan sebagai pengingat visual terkait bagaimana sebuah prioritas harus didahulukan dibandingkan hal lainnya. 

6. Manfaatkan Financial Planner

Bagi orang yang masih awam, mungkin sering bimbang dalam menentukan prioritas keuangan mana yang harus didahulukan sesuai dengan kondisi finansial yang dihadapi saat ini. Padahal, menentukan prioritas bisa jadi sebuah langkah yang sangat mendasar, jika ingin mencapai tujuan keuangan.

Untuk itu, kamu bisa memanfaatkan financial planner untuk membantu membimbing dan mengarahkan kamu dalam menentukan prioritas keuangan berdasarkan piramida. Financial planner umumnya sudah berpengalaman dalam mendampingi klien-kliennya dengan berbagai masalah keuangannya.

Jadi, berkonsultasi dengan financial planner akan membantu kamu memperoleh solusi dari berbagai sudut pandang. Tentu hal ini akan memudahkan kamu dalam menentukan prioritas keuangan yang tepat dalam rangka membangun piramida yang kokoh.

Yuk, Tetapkan Prioritas dengan Piramida Keuangan!

Semoga dengan memahami prinsip piramida perencanaan keuangan, kamu bisa merencanakan hidup kamu dengan lebih detail dan terarah. Namun, semua kembali pada dirimu sendiri. Intinya, kuatkan niat terlebih dahulu untuk memperbaiki kondisi keuangan dan konsisten dalam menerapkan langkah-langkah pembangunan piramida.

Untuk mendukung langkah-langkah tersebut, kamu bisa gunakan tools seperti aplikasi pencatatan keuangan serta bergabung dalam group para investor, sehingga catatan keuangan kamu terpantau dengan baik dan kamu bisa berinvestasi dengan tepat.